Raja Ampat dikenal luas sebagai surga wisata bahari terbaik dunia.
Namun nama kawasan Papua Barat Daya ini sempat mencuat karena alasan yang jauh dari kata indah.
Isu tambang nikel yang mengancam ekosistemnya memicu gerakan tagar #SaveRajaAmpat di media sosial.
Awal Mula Heboh Tagar Save Raja Ampat
Isu ini pertama kali mencuat pada awal Juni 2025 lalu.
Laporan masyarakat menyebut aktivitas tambang nikel menjangkau Pulau Kawe, Pulau Gag, dan Pulau Manuran.
Kekhawatiran publik wajar mengingat kawasan ini pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
Raja Ampat menyimpan sekitar 75 persen spesies terumbu karang yang diketahui dunia.
Bahlil Sempat Hentikan Operasi Tambang
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia merespons cepat isu yang jadi viral tersebut.
Ia menghentikan sementara operasi PT Gag Nikel, anak usaha PT Antam, pada 5 Juni 2025.
Dari lima izin usaha pertambangan yang pernah ada, empat di antaranya dicabut pemerintah.
Hanya izin PT Gag Nikel yang bertahan, dengan alasan sudah beroperasi sejak 2018.
Sempat Berhenti, Kini Beroperasi Lagi
Penghentian sementara itu ternyata tidak berlangsung lama.
Pada September 2025, Kementerian ESDM kembali memberi izin operasi ke PT Gag Nikel.
Alasannya, perusahaan tersebut meraih predikat PROPER Hijau dalam evaluasi lintas kementerian.
Predikat ini menandakan kepatuhan penuh terhadap tata kelola lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Greenpeace Masih Menyoroti Ancaman Ini
Meski sebagian izin dicabut, kritik dari kelompok lingkungan belum sepenuhnya reda.
Greenpeace Indonesia menemukan area operasional perusahaan tumpang tindih dengan zona penyangga cagar biosfer.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace, Belgis Habiba, menilai perlindungan pemerintah terhadap Raja Ampat masih minim.
Ia juga mendesak rantai pasok kendaraan listrik global menolak nikel dari kawasan biodiversitas tinggi ini.
Status Cagar Biosfer UNESCO Sejak 2023
Raja Ampat sendiri sudah berstatus UNESCO Global Geopark sejak 2023.
Setahun setelahnya, kawasan ini diakui sebagai cagar biosfer pada 2025.
Status ini seharusnya menjaga keseimbangan antara pelestarian alam dan aktivitas manusia di dalamnya.
Kabupaten Raja Ampat sendiri terdiri dari lebih dari 1.500 pulau, sebagian besar masih tak berpenghuni.
Tetap Jadi Destinasi Impian Meski Ada Polemik
Terlepas dari polemik ini, Raja Ampat tetap jadi incaran wisatawan diving dunia.
New York Times bahkan pernah menobatkannya sebagai destinasi wajib dikunjungi.
Bagi wisatawan yang berencana berkunjung, memilih operator wisata yang mendukung konservasi jadi langkah bijak.
Menjaga Raja Ampat tetap lestari adalah tanggung jawab bersama, bukan cuma pemerintah semata.